Film panjang kedua sutradara Jeong Seung-o, yang menarik perhatian lewat karya debutnya, “Move the Grave” (2020), yang sarat dengan kemurungan dan humor dalam takaran seimbang. Dengan berpusat pada tiga tokoh—Cheoltaek, seorang ayah yang didiagnosis menderita kanker stadium akhir; putrinya, Jeongmi, yang sekaligus menanggung beban mencari nafkah dan merawat orang sakit; serta Hyeonsuk, yang mendambakan kebebasan dari perannya dalam keluarga—film ini sekali lagi menghadirkan sebuah keluarga besar ke layar. Kepiawaian meracik cita rasanya semakin matang dan berlimpah. Sambil merengkuh kerumitan hubungan dan memasaknya perlahan dengan api kecil, film ini juga tak melewatkan ironi dan humor keseharian, sesekali menambahkan rasa yang menyengat. Alih-alih mengikat keluarga dalam satu narasi tunggal, “Coming of Age” memilih untuk menumpuk lapis demi lapis pengalaman zaman, kesenjangan antargenerasi, hingga hasrat pribadi di dalamnya. Kekuatannya dalam merangkai beragam tokoh dan cerita untuk menghadirkan keluarga sebagai komunitas yang rapuh sekaligus ulet tampak menonjol, sementara keterbukaannya dalam menafsirkan tema-tema nyata seperti penyakit, penuaan, perawatan, dan penanggungan nafkah dalam konteks kehidupan yang telah dilalui setiap tokoh memberikan rasa tenteram.