Ada seorang anak yang dikirim dari Incheon ke sebuah kota kecil di Denmark barat saat baru berusia dua bulan. Dokumen mencatatnya sebagai anak yang dibuang, tetapi dokumen itu dipalsukan demi mempercepat adopsi. “Homesick” adalah dokumenter pribadi sang sutradara yang menelusuri riwayat adopsinya setelah mengetahui fakta ini, sekaligus kesaksian politis tentang sistem adopsi ke luar negeri yang pada 2025 diakui oleh Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia. Melalui wawancara dengan keluarganya di Denmark, sang sutradara mengungkap luka keluarga angkat yang selama ini menyembunyikan kekerasan, kecanduan alkohol, perceraian, dan kematian. Dalam adegan-adegan yang direkayasa dengan menampilkan perempuan-perempuan yang diadopsi dan mengenakan pakaian putih, ia membayangkan dengan indah dan sendu kehidupan yang mungkin terbentang seandainya pilihan lain dimungkinkan. Seperti judul bahasa Denmarknya yang berarti “dihantui (Hjemsøgt)”, tetapi juga dapat dibaca sebagai “Hjem (rumah) + søgt (mencari)”, film ini memuat perjalanan mendalam dan memikat seseorang yang dahulu mengembara seperti hantu di antara dua dunia, hingga akhirnya mencari rumah dan akarnya dengan suaranya sendiri.