New York, kota percampuran. Bagi para imigran, apakah ini tempat impian menjadi kenyataan, atau justru tempat untuk memastikan bahwa impian mustahil terwujud? Bagi Lu, yang bekerja sebagai pengantar makanan setelah gagal mengelola restoran, New York dengan kejam hanya membentangkan bayang-bayang keputusasaan. Sepedanya dicuri, dan bahkan rumah yang susah payah didapatkannya ternyata merupakan penipuan; yang tersisa baginya hanyalah istri dan putrinya yang akan datang ke New York untuk menemuinya keesokan hari. “Lucky Lu” merekam melalui tracking shot kisah 48 jam ketika Lu melewati hari terburuknya, lalu menyusuri jalan-jalan New York bersama putrinya, Yaya, keesokan harinya. Ketika tatapan Lu yang gersang bertumpuk dengan tatapan polos seorang anak dalam bingkai gambar, film ini berhenti berkutat dalam keputusasaan dan berangkat mencari kemungkinan adanya seberkas cahaya yang mungkin masih tersisa di suatu tempat. Film yang meluap dengan energi kehidupan ini menampilkan penyuntingan yang cermat dan kemampuan akting Chang Chen yang terwujud dengan indah.