Foto-foto Yang Seungwoo selalu mengajukan pertanyaan yang sama. Bagaimana ia bisa mendekat hingga jarak itu? Selama hampir 30 tahun, ia telah memotret para tunawisma, yakuza, dan orang-orang lain yang tak diingat siapa pun. Foto-fotonya yang diambil dari jarak yang luar biasa dekat bukanlah hasil peliputan, melainkan hasil waktu yang dijalani bersama. Ia mencari nafkah dengan memasak okonomiyaki di jalan tempat berlangsungnya festival di pinggiran Tokyo, tetapi ia juga fotografer asing pertama yang meraih Penghargaan Domon Ken, penghargaan paling bergengsi dalam fotografi dokumenter Jepang. Namun, ia memiliki seorang teman dari kampung halaman yang meninggal tanpa meninggalkan selembar foto pun, dan sebuah kamera yang sejak hari itu selalu dibawanya seperti jimat. Seperti foto-fotonya yang mengukir kisahnya sendiri pada wajah orang lain dari jarak yang nyaris bersentuhan kulit, film ini pun merekam pertumbuhan dirinya dan dunia fotografinya dari dekat. “The Best Days”, yang juga merupakan judul buku foto pertamanya, dengan demikian menjadi potret seorang manusia sekaligus pandangan tentang fotografi dari seorang fotografer yang merekam kehidupan yang tak dapat diingat dengan cahaya.