Film ini mengangkat peristiwa mengejutkan yang terjadi di Jalur Gaza pada 29 Januari 2024. Hind Rajab, gadis Palestina berusia enam tahun, diserang tentara Israel saat mengungsi dengan mobil bersama kerabatnya. Sebagai satu-satunya penyintas di dalam mobil, Hind dengan susah payah berhasil tersambung dengan pusat panggilan Bulan Sabit Merah Palestina (Palang Merah di dunia Islam). Sejak saat itu, Omar dan rekan-rekannya di Bulan Sabit Merah mencurahkan segala upaya untuk menyelamatkan gadis itu. Sebagaimana sutradara Kaouther Ben Hania merekonstruksi tragedi sebuah keluarga Tunisia di perbatasan antara film fiksi dan dokumenter dalam “Four Daughters” (2023), ia juga merekonstruksi peristiwa yang menimpa gadis yang penuh impian ini. Sementara Olfa dan putri-putrinya berpamitan dengan masa lalu dan melangkah menuju pemulihan keluarga melalui medium film, “The Voice of Hind Rajab” mengajak kita berbagi duka yang menyayat hati tanpa mengonsumsi penderitaan orang lain. Kepedihan ini sama sekali tidak sirna meski film telah berakhir. Sebab, pembantaian di Jalur Gaza masih terus berlangsung hingga kini.